Rabu, 22 Februari 2012

mumps (gandong)-4- EPM


BAB I
PENDAHULUAN
            Mumps adalah penyakit menular akut, yang banyak menyerang anak-anak dan remaja disebabkan oleh paramyxuvirus, yang menyebabkan pembengkakan disertai rasa nyeri di kelenjar parotis yang berada di bawah telinga dan menghasilkan air liur dalam mulut ( Evans Alfreds, 1983).
            Secara tipikal penyakit ini dimulai dengan bengkak yang sangat menyakitkan pada daerah dekat telinga. Mumps yang juga dikenal dengan parotitis epidemika telah mengalami penurunan jumlah kasus setelah ditemukan vaksin pada tahun 1967 ( Chin, 2000).
            Kasus yang dilaporkan menurun 98% jika dibandingkan dengan era sebelum vaksin. Penyakit ini biasanya terjadi pada akhir musim dingin dan awal musim semi. Sebelum era vaksin, epidemik mumps terjadi 3-4 tahun (Chin, 2000).










                                                                                                                       
BAB II
PERMASALAHAN
            Infeksi penyakit mumps tersebar luas di seluruh dunia. Baru-baru ini, wabah telah terjadi di negara-negara wajib imunisasi seperti Inggris, Irlandia, Austria, Spanyol, Amerika Serikat, Kanada dan lain-lain (Karcheva, 2010).
Sebanyak 6.584 kasus mumps di Amerika dilaporkan pada tahun 2006, dengan 76% terjadi diantara Maret dan Mei, namun tidak ada kematian yang dilaporkan. Kejadian nasional mumps adalah 2,2 per100.000. Wabah juga telah dilaporkan di Jerman, Inggris, Kanada. Namun, dibandingkan dengan negara-negara lain, angka kejadian di AS sebenarnya masih relatif kecil, meskipun tumbuh pada tingkat yang mengkhawatirkan. Di Inggris, pada tahun 2004-2006 dilaporkan wabah penyakit mumps sebanyak lebih dari 70.000 kasus (Dayan Gustavo, 2008).
            Setelah pengenalan vaksin mumps pada tahun 1967, kasus yang dilaporkan turun sebesar 98%, dari 152.209 kasus pada tahun 1968 menjadi 2982 kasus, pada tahun 1985 (Dayan Gustavo, 2008).
            Pada tahun 2006 di Lowa terjadi wabah mumps sebanyak 216. Ini merupakan jumlah kasus terbesar di Amerika Serikat yang dilaporkan sejak 1988. Pada tahun 1991, Lowa menetapkan bahwa 2 dosis vaksin gondong diperlukan untuk semua anak (Dayan Gustavo, 2008).


           


                                                                                                                       
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1.Keluhan dan Gejala
Gejala yang paling sering terjadi pada penyakit mumps adalah  pembengkakan dan nyeri pada kelenjar parotis. Pembengkakan biasanya didahului dengan demam. Masa tunas atau masa inkubasi penyakit Gondong sekitar 16-18 hari. Pada tahap awal 1-2 hari penderita mumps mengalami gejala  demam suhu badan antara 38.5 – 40 derajat celcius, sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya disertai kaku rahang sehingga sulit membuka mulut ( Evans Alfreds, 1983).
Selanjutnya terjadi pembengkakan tanpa supurasi pada kelenjar di bawah telinga (parotis) yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian kedua kelenjar dapat mengalami pembengkakan.Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsur mengempis ( Evans Alfreds, 1983).
Rasa nyeri biasanya diperburuk oleh mengunyah, menelan, dan berbicara,rasa nyeri juga akan semakin terasa jika penderita memakan makanan yang asam dan ini merupakan gambaran klinis yang khas dari penyakit mumps (Karcheva, 2010).
Sekitar 30 % sampai 40% penderita yang terkena infeksi virus penyebab tidak memberikan gambaran klinis karena adanya invasi virus mumps ke organ lain sehingga tidak terjadi pembengkakan kelenjar parotis.Penyakit mumps dapat menyebabkan komplikasi yang melibatkan organ-organ lain setelah  gejala penyakit ini muncul setelah satu minggu, yaitu :
·         Orchitis(pembengkakan testis) dapat terjadi pada 10–20% penderita laki-laki, dengan rata-rata usia 15-29 tahun tetapi sterilitas jarang terjadi. Pembengkakan testis ini disertai pula dengan rasa nyeri pada testis,yang berakhir pada 4-6 hari.

·         Pankreakitis( kerusakan pada kelenjar pancreas di dalam perut). Resiko terkena adalah 1 per 30 penderita mumps
·         Oophoritis yaitu peradangan pada ovarium yang tidak menyebabkan kemandulan.
·         Kehilangan pendengaran ( hanya terjadi pada salah satu telinga saja, dan biasanya hanya bersifat sementara).
·         Meningitis yaitu peradangan pada selaput otak atau sumsum tulang belakang.
Ensefalitis yaitu infeksi virus seperti mumps dapat menyebabkan peradangan pada otak. Ensefalitis dapat menimbulkan gangguan syaraf yang mengancam jiwa ( Evans Alfreds, 1983).
3.2. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Untuk menetapkan diagnosis pada kasus yang terjadi pemeriksaan laboratorium biasanya tidak diperlukan, diagnostik klasik terutama didasarkan atas riwayat kontak dan gambaran klinik yang ditemukan, namun untuk lebih memastikan seorang tersebut terinveksi penyakit mumps dapat dilakukan dengan cara Isolasi dan Identifikasi virus yang diambil dari air liur, cairan serebrospinal, dan urin yang telah dikumpulkan dalam beberapa hari setelah mulai timbul penyakit. Setelah itu virus dapat diisolasikan dengan teknik telur yang diembriokan atau kultur sel yang diidentifikasikan dengan uji ELISA.
( Tortora,2001).
3.3.Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus mumps, yang termasuk Group:V(-) ssRNA, Ordo: Mononegavirales, Famili: Paramyxovirida, Genus: Rubulavirus, Spesies: Mumps Virus.
Inti virus yang disebut capsid, berbentuk helical yang dilapisi protein dan lemak pada bagian luarnya. Bagian luar dari virus ini terdiri dari dua jenis glikoprotein yaitu :
1.      Hemaglutinine atau Neurominidase (HN) protein
2.      Fusion (F) protein
Virus penyakit mumps  terdiri atas RNA rantai tunggal yang berisi suatu helik nukleokapsid. Amplop viral berisi hemolisin, hemaglutinin, dan neuraminidase. Virus mumps Stabil pada PH 5,8 – 8. Virus Penyakit mumps dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah dan urin
( Evans alfreds, 1983).
3.4.Cara Pencegahan
Pencegahan dilakukan dengan pemberian imunisasi MMR (Measles, Mumps, Rubela) pada usia 15 bulan. Imunisasi ini menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan, imunisasi merupakan pendekatan terbaik untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian yang berhubungandengan mumps (Chin, 2000).
Penyakit gondongan sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari satu tahun, hal tersebut. Karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh anti bodi yang baik. Seseorang yang pernah menderita penyakit gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan seumur hidupnya.
( Evans alfreds, 1983).
Cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah gondong adalah :
·      mencuci tangan dengan baik dan menggunakan sabun
·      mengajarkan pola hidup bersih kepada anak
·      tidak membagi peralatan makan
·      membersihkan permukaan meja, gagang pintu, mainan yang sering disentuh secara teratur dengan menggunakan sabun dan air, atau dengan menggunakan tisu pembersih.

3.5.Cara Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk penderita penyakit mumps, Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya. Pemakaian parasetamol dapat digunakan untuk menurunkan panas, tetapi aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak. Bisa juga diberikan.  Asam mefenamat   3 x 500 mg untuk  mengurangi rasa nyeri.  Pemberian kortikosteroid selama 2-4 hari dan 20 ml convalescent gammaglobulin diperkirakan dapat mencegah terjadinya orkitis (Chin, 2000).
3.6. Rehabilitasi
Rehabilitasi pada penyakit mumps dapat dilakukan dengan memperbanyak waktu istirahat pada penderita dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah untuk menghindari penularan pada orang lain. Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita menjalani istirahat dan berbaring ditempat tidur. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres es pada area testis yang membengkak tersebut. Penderita penyakit mumps  sebaiknya menghindarkan makanan atau minuman yang sifatnya asam supaya nyeri tidak bertambah parah, serta diberikan makanan yang bersifat cair dan lunak( Evans Alfreds, 1983).
3.7. Prognosis
            Mumps sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" yaitu penyakit yang bisa sembuh sendiri, dan jarang berlanjut menjadi kronis, sehingga prognosisinya baik. Kematian dan komplikasi akibat penyakit mumps sangat jarang terjadi( Evans Alfreds, 1983).








BAB V
PENUTUP
Mumps adalah penyakit menular akut, yang banyak menyerang anak-anak dan remaja disebabkan oleh paramyxuvirus,Infeksi penyakit mumps tersebar luas di seluruh dunia.  Baru-baru ini, wabah telah terjadi di negara-negara wajib imunisasi seperti Inggris, Irlandia, Austria, Spanyol, Amerika Serikat, Kanada dan lain-lain.
Sering terjadi pada penyakit mumps adalah  pembengkakan dan nyeri pada kelenjar parotid . pembengkakan biasanya didahului dengan Demam dan malaise, penyakit mumps dapat menyebabkan komplikasi seperti orchitis, pankreakitis. Pencegahan dilakukan dengan pemberian imunisasi MMR yang menggunakan virus hidup yang telah dilemahkan, hal itu merupakan pendekatan terbaik untuk mengurangi angka kesakitan dan  kematian yang berhubungan dengan mumps.
Tidak ada pengobatan khusus untuk penderita penyakit mumps, Pengobatan hanya berorientasi untuk menghilangkan gejala sampai penderita kembali baik dengan sendirinya.Rehabilitasi pada penyakit mumps dapat dilakukan dengan memperbanyakwaktu istirahat pada penderita dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah untuk menghindari penularan pada orang lain. Mumps sebenarnya tergolong dalam "self limiting disease" yaitu penyakit yang bisa sembuh sendiri, dan jarang berlanjut menjadi kronis, sehingga prognosisinya baik. Kematian dan komplikasi akibat penyakit mumps sangat jarang terjadi.






BAB VI
DAFTAR PUSTAKA
Alfreds,Evans.1983. Viral Infections of Humans Epidemiologi and Control.
            Plenium Medical Book Company : New York
Dayan,H,Gustavo. 2008. Recant Resurgence of Mumps United States. The New
            England Journal of Medicine : England
Gerard,J,Tortora.2001. Microbiology an Introduction, Word Student Series : USA
James Chin MD.2000. Control of Communicable Diseases Manual. American
 Public Health Asociation : Washington
Karcheva M. 2010. Study On Seroprevalence Of Mumps Specific IGG Antibodies  
in a Healthy Population. Journal of IMAB - Annual Proceeding (Scientific Papers) vol. 16, book : Bulgaria



metode delphi (4)


Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan komunikasi melalui beberapa kuisioner yang tertuang dalam tulisan. Teknik Delphi dikembangkan pada awal tahun 1950 untuk memperoleh opini ahli. Objek dari metode ini adalah untuk memperoleh konsensus yang paling reliabel dari sebuah grup ahli. 
Metode Delphi dikembangkan oleh Derlkey dan asosiasinya di Rand Corporation, California pada tahun 1960-an. Metode Delphi merupakan metode yang menyelaraskan proses komunikasi komunikasi suatu grup sehingga dicapai proses yang efektif dalam mendapatkan solusi masalah yang kompleks dan dapat pula digunakan untuk menentukan prioritas masalah.
Pendekatan Delphi memiliki tiga grup yang berbeda yaitu : Pembuat keputusan, staf, dan responden. Pembuat keputusan akan bertangungjawab terhadap keluaran dari kajian Delphi. Sebuah grup kerja yang terdiri dari lima sampai sembilan anggota yang tersusun atas staf dan pembuat keputusan, bertugas mengembangkan dan menganalisis semua kuisioner, evaluasi pengumpulan data dan merevisi kuisioner yang diperlukan. Grup staf dipimpin oleh kordinator yang harus memiliki pengalaman dalam desain dan mengerti metode Delphi serta mengenal problem area. Tugas staf kordinator adalah mengontrol staf dalam pengetikan. Mailing kuesioner, membagi dan proses hasil serta pernjadwalan pertemuan. Responden adalah orang yang ahli dalam masalah dan siapa saja yang setuju untuk menjawab kuisioner.
Manfaat metode:
a.       Dapat dipergunakan untuk memperkirakan kecenderungan dan kejadian yang akan datang
b.      Memperjelas dan menjernihkan adanya perbedaan pendapat
c.       Menyusun strategi
d.      Survi masalah kesehatan
e.       Memprioritaskan masalah



Prosedur Delphi mempunyai ciri – ciri yaitu :
1. Mengabaikan nama
2. Iterasi dan feedback yang terkontrol
3. Respon kelompok secara statistik (Chang, 1993)
Jumlah dari iterasi kuesioner Delphi bisa tiga sampai lima tergantung pada derajat kesesuaian dan jumlah penambahaninformasi selama berlaku. Umumnya kuesioner pertama menanyakan kepada individu untuk merespon pertanyaan dalam garis besar. Setiap subsequen kuisioner dibangun berdasarkan respon kuisioner pendahuluan. Proses akan berhenti ketika konsensus mendekati partisipan, atau ketika penggantian informasi cukup berlaku.
Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini merupakan kunci proses Delphi. Langkah ini dimulai dengan memformulasikan garis besar pertanyaan oleh pembuatan keputusan. Jika responden tidak mengerti garis besar pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterviewpembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
2. Memilih dan kontak dengan responden
Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar ; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.
3. Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.


4. Mengembangkan kuisioner dan test 1
Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.
5. Analisa kuisioner 1
Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.
6. Pengembangan kuisioner dan test 2
Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1
7. Analisa kuisioner 2
Tugas dari kelompok kerja adalah menghitung jumlah suara masing – masing bagian yang meringkas komentar yang dibuat tentang masing – masing bagian. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara.
8. Mengembangkan kuisioner dan test 3
Kuisioner 3 didesain untuk mendorong masukan proses Delphi
9. Analisis kuisioner 3
Analisa tahap ini mengikuti prosedur yang sama pada analisis kuisioner 2
10. Menyiapkan laporan akhir



Secara ringkas metode Delphi yang digunakan untuk menetukan prioritas masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.       Seleksi anggota kelompok yang terdiri dari 6 sampai 10 orang.
b.      Masing-masing anggota diminta mengajukan pendapatnya terhadap kuesioner yang dibagikan.
c.       Hasil pendapat masing-masing anggota dihitung, kemudian dibagikan kepada seluruh anggota, untuk dibandingkan pendapatnya dengan pendapat anggota yang lain.
d.      Proses diulangi berkali-kali, melalui pembahasan-pembahasan, perbaikan-perbaikan, dan penjelasan-penjelasan yang akhirnya dicapai kesepakatan. 
Kelebihan metode delphi:
a.       Metode ini sesuai untuk menentukan prioritas masalah apabila data kuantitatif tidak tersedia karena permasalahannya kompleks atau sulit.
b.      Relative murah.
c.       Oleh karena keputusan yang diambil berdasarkan kesepakatan, maka dapat digunakan untuk meniadakan keputusan sepihak yang dikemukakan oleh anggota kelompok yang dominan.
Kekurangan metode delphi :
a.       Apabila seleksi anggota kelompok kurang cermat, dapat menghasilkan keputusan yang kurang tepat (seharusnya kemampuan dan ilmu masing-masing anggota cukup memadai tentang hal yang dibahas serta berkemampuan sama atau hamper sama).
b.      Dalam pelaksanaan metode ini pembahasan dilakukan berulangkali sehingga menyebabkan anggota menjadi lelah, akibatnya keputusan yang diambil belum matang atau mantap.
c.       Apabila kemampuan anggota kelompok tidak sama dan data yang tersedia tidak akurat, maka hasil kesimpulan dari 2 kelompok yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.


Contoh hasil diskusi kelompok dengan metode Delphi mengenai masalah A,B,C,D dan E, sebagai berikut:
masalah
% anggota berpendapat maslah kesehatan tahun 2000
total
keterangan
besar
sedang
kecil
A
70
20
10
100

B
50
40
10
100

C
80
10
10
100

D
30
40
30
100

E
40
20
40
100

Pada tahap pertama dalam tabel diatas diperoleh gambaran bahwa 60% anggota beranggapan bahwa maslah D probabilitasnya kecil pada tahun 2000 dan anggota beranggapan bahwa masalah C probabilitasnya besar (80%) dan seterusnya. Setelah diskusi diulangi lagi maka hasil konsensus akhir adalah sebagai berikut:
masalah
% anggota berpendapat maslah kesehatan tahun 2000
total
Prioritas
besar
sedang
kecil
A
60
20
20
100
3
B
50
30
20
100
4
C
70
15
15
100
2
D
75
10
15
100
1
E
40
30
30
100
5

TUGAS TERSTRUKTUR

Metode Delphi
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Rencana dan Evaluasi Kesehatan

 





Disusun Oleh :
1.             Dini Rizkiana                                      G1B009049
2.             Terlita ferari                                      G1B009057
3.             Sri budi fajariyani                             G1B009058
4.             Pratomo Ajiwibowo                          G1B009059
5.             Zahra tamammy                                G1B009060
6.             Uli Nuha                                               G1B009063
7.             Hidayat Heru                                      G1B009064
8.          Rokhmatul Ikhsani                               G1B009065
9.           M. Rizal                                                  G1B009067
10.       Jundha Fristiawan                                G1B009069

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
PURWOKERTO
2011
Daftar Pustaka
Brooks, k. w. (1979). delphi teknik: memperluas aplikasi. utara pusat asosiasi triwulan, 53, 377-385.
rieger, w. g. (1986). arah perkembangan di delphi: dissertations dan kualitasnya. teknologi perencanaan dan perubahan sosial, 29, 195-204.